Seindah apapun huruf diukir, dapatkah ia bermakna bila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti bila tak ada spasi?Tapi apa jadinya kalau jeda yang terbentang terlalu lebar? Seperti sebuah kalimat yang tak terselesaikan. Aku tak sabar menanti kata selanjutnya setelah spasi di ujung ini. Tapi sampai kini, tak ada satu pena pun yang mau menggoreskan tintanya. Aku kedipkan mataku pada orang diseberang sana. Ia diam. Penanya masih ia pegang. Tapi tak kulihat ia akan menggerakkannya.
Demi Dewa Kata dan Dewi Jeda, kumohon jangan katakan kalau jeda ini adalah titik yang berganti rupa.
6 Mei 2012
0 comments:
Post a Comment