Showing posts with label Cerita Mini. Show all posts
Showing posts with label Cerita Mini. Show all posts

Tuesday, 17 September 2013

Kebetulan

Aku rindu Kebetulan. Selalu memberi kejutan yang mengagetkan. Bukan hal besar. Tak pernah terduga. Sangat sederhana, tapi selalu membuat bergetar.  Kita bertemu di satu waktu, satu tempat, satu keadaan, entah bagaimana caranya selalu tepat. 

Diantara 24 jam sehari dan ribuan detiknya, aku suka bagaimana kita pas sekali bertemu. Lalu aku akan berkata, sambil sumringah tentunya, "Hai". Lalu kau akan membalas dengan "hai" yang lebih agak panjang sambil nyengir kuda. Aku merasa sepertinya seluruh hariku akan cerah ceria. 

Aku heran bagaimana bisa sang waktu mengatur sedemikian rupa. Kita bagaikan adam dan hawa yang bertemu di bukit Jabal Rahmah. Wahahaha. 

Namun akhir-akhir ini aku jarang bertemu Kebetulan. Hei Kid, kapan kita bertemu secara kebetulan?

Saturday, 23 February 2013

Cerita Mini: Menikmatimu *JUDUL MACAM APA INI??*

Gue ikutan challenge cerita mini Bentang Pustaka yang ga boleh lebih dari 200 kata. Nah, tema kali ini adalah... KENCAN PERTAMA *mampus-mampus* *nabuh simbal di telinga sendiri sambil kitik-kitikin perut yang juga punya sendiri*..jadi saudara-saudara sekalian, gue gak pernah.. *gak kuasa ngelanjutin*  

Baca aja deh :p


Hari ini aku akan bertemu denganmu lagi. Tak usahlah kusebut seberapa senang aku. Bulan pun tahu, ia merekah sempurna hingga awan disekitarnya ikut benderang. Aku datang agak terlambat karena tidak tahu tempat yang dimaksud. Telepon masuk banyak sekali, menanyakan keberadaanku. Aku bilang saja tempat yang tertera di papan reklame pinggir jalan. Teman-temanmu menyuruhku menunggu di cafe dekat situ, nanti dijemput. 

Oh, ini malam minggu! Lihat orang-orang didalam cafe, mereka duduk berpasang-pasang. Sementara aku, kanan kiri tukang parkir. Aku menunggu didepan dengan sebab yang nanti menjemput bisa langsung melihat. Benar, sebuah sepeda motor mendekat! Ah, itu kamu! Kamu langsung berhenti didepanku.

“Ayo kita udah telat!”
 
Sungguh ini yang paling aku nikmati dari pertemuan malam ini. Kau cerita satu persatu yang ada dimemorimu. Tentang masa itu. Teman lama, sekolah, dan guru-guru. Aku yang dibelakang tak sungguh mendengarkan. Aku berusaha merekam malam. Dengan kau didepan, dan kendaraan di jalanan sebagai hiasan. Jarak yang selama ini selalu terbentang, malam ini hilang. Mungkinkah hati kita berdegup sama kencang? Semoga.
Hingga kamu berhenti bercerita dan aku tahu kita sudah sampai.

Pertemuan kali ini mungkin hanya menyisakan aku saja yang menikmatimu. Meski demikian tak usahlah kusebut seberapa senang aku. Senyum dan rona pipi ini menjelaskannya.

***

Monday, 13 August 2012

Thanks, Alvin!

Sudah dua tahun Yara ikutan klub menulis di sekolahnya, tapi jarang sekali ia menulis. Masalah klasik penulis pemula, takut dibilang jelek sama orang yang baca.  Alhasil kegiatannya di klub cuma mendengarkan tips menulis dari pembina.
Ketika jam pelajaran berakhir, ia melihat Alvin sendirian di perpustakaan. Seketika jantung Yara berdegup kencang. Alvin, kapten baseball sekolah, peraih medali perak kimia olimpiade sains nasional, dan sederet prestasi lainnya yang jelas membuat cowok ini paling keren sesekolah. Apalagi sekarang ia jomblo. Lengkap sudah.

“Loh, Yara? Ngapain bengong disitu?” suara Alvin bagai jarum yang memecah gelembung lamunannya.
“Eh enggak, klub jurnalistik ngadain rapat di sini. Kamu ngapain? Serius amat bacanya”
“Ada summer camp di Belanda. Gue pengen banget ikut” kata Alvin seraya menyerahkan selebaran yang ia pegang ke Yara.
“Wah ini gratis lagi. Syaratnya juga cuma nulis essai. Buat Alvin ini mah gampang. Pasti lolos deh!”
“Belom tentu juga sih, gue juga masih belajar nulis essai. Lo bukannya anak jurnalistik ya?  Ikutan dong. Coba aja lagi, siapa tau kita lolos”

Siapa tahu kita lolos. Kata-kata itulah yang membuat Yara tiba-tiba punya semangat tinggi untuk ikutan. Liburan sama Alvin di Belanda selama sebulan, gratis lagi. Gue gak bakal menyianyiakan kesempatan ini!! teriak Yara dalam hati.

Rona kehidupan Yara pun berubah. Sebelumya Yara hanya membawa buku tulis ke sekolah kini tiap hari bawaannya buku-buku tentang bullying yang tebelnya hampir ngalahin buku Harry Potter jilid 5. Kalau ada waktu luang, ia akan membuka laptop dan duduk anteng didepannya.

“Lo ngapain, Ra? Tumben-tumbenan lo nulis? Gitu dong!” kata Cecil teman sebangkunya.
“Hush! Jangan ganggu gue!”
Ujung matanya menangkap bayangan Alvin berjalan dikoridor. Yara langsung lari menghampiri.
“Alvin!  Gimana essai lo? ”
“Udah gue submit kok” jawab Alvin  sambil senyum. “Lo gimana? Semangat ya..”
 “Oke” kata Yara kalem

Yang pasti, teriakan ‘oke’ Yara dalam hati jauh lebih keras daripada yang diucapnya barusan. Bermacam rencana indah memenuhi kepala Yara. Sebulan di Belanda? Sama Alvin? Sang high class jomblo? Pokoknya harus nulis essai yang bagus biar lolos. Yara bisa-bisa pingsan saking senangnya.

Sepertinya ia benar-benar akan pingsan, karena dua minggu kemudian ia dapat email konformasi kalau ia lolos summer camp! Ia bergegas berangkat sekolah sambil cengar-cengir. Matanya lihai mendeteksi keberadaan Alvin di kantin. Rasanya ia ingin memeluk Alvin, tapi itu nggak mungkin.

“Alvin! Gue lolos summer camp! Elo?”
 “Wah! Selamat Yara! Lo hebat! Gue gak lolos”
Jawaban Alvin barusan sungguh membuat gigi-gigi Yara terasa rontok dan senyum lebarnya hilang seketika. Serasa bom atom telah meledakkan seluruh mimpi indahnya bersama Alvin.

***

“Lo kenapa, Ra? Bete gitu muka lo?” tanya Cecil
“Gue lolos summer  camp, cil. Gue udah bikin essai terbaik gue”
“Bagus dong, Ra! Tuh kan lo tuh bisa nulis, tulisan lo gak jelek. Tapi kok lo sedih gitu?”
“Tapi Alvin gak lolos. Kan gue pengen ke Belanda sama Alvin”
“Ya ampun cuma gitu doang! Denger ya Yara, lo tuh bakal nemuin seabrek bule cakep disana. Anggep aja Alvin itu motivasi elo buat nulis selama ini”

Bener juga, mungkin Tuhan nunjukkin kalo ternyata gue bisa nulis lewat Alvin. Asalkan punya semangat buat nulis dan terus berlatih, gue bisa kok jadi penulis. Thanks, Alvin!

Saturday, 4 February 2012

(35/366) (haven't decide the tittle yet)

Like when you wish for something, and when you have it, you wish for another one. Again and again.Like you play with the feeling. Ask it to come but when it comes, you ask it to go.

And it was about you that I saw last night. I think I should remind you of what you've said to me that karma's exist. You don't want to get hurt, but there are lots people get hurt because of you. So, it was the time when you get it back. It was last night.

This night seems so cold. The rain falls hard in the middle of 7 o'clock. I don't bring my coat and don't have any gloves to warm my palms. So, here I am. Trapped inside a mini market.With a can of coke and a bar of ice-cream. I feel like after this I am going to explode. It's impossible to get out from this mini market, I will die frozen and I bet no one can identify me. So I decide to wait until the rain stops. I walk around the shelves and pretend to buy something beside coke and ice cream.

Then, Gosh! What is this? The heartbeat suddenly comes! I saw a boy with a black hoodie in front of the cashier. I know him! Just for you information, he is the main character in my mind lately. Seriously. I can't hide this feeling. I feel like shaking all over my body. I can't stop saying "OMG, how is it? OMG how is it? OMG". The ice-cream that I hold seems already melted. I take a deep breath over the time, but the heartbeat won't go. The shop assistant scares me to death. He said to me what happens. Nothing was the only one that comes from my mouth.

"Do you know him?"
Yes
"Do you like him?
Well, no
"I bet he is a person you like"
OMG you speak like a shaman
"I bet you feel an uncontrollable heartbeat, am I right? Haha"
Shut up, man
"You can have a sweet walk in the middle of the rain, if you go get him. I saw him several minutes ago coming with an umbrella in his hand. You don't bring umbrella, do you?"
I don't think he walked in the middle of the rain. He hates rain. He's not a kind of person who wants to come outside in the rain. What does he actually do in this night-rain?
"Wow, you know much about him, miss. I bet my assumption is true. Haha"
What assumption?
"You like him"
Shut up!
OMG he walks outside. What should I do? OMG.
"Go ahead!"
I don't bring any umbrella. I don't wear any jacket. I can get flu!
"People in love will do anything, as I know miss"
OMG you shaman!

As the shop-assistant said to me, I chase him. The shop-assistant gave me his small umbrella. So, I can freely walk behind him without afraid of being wet. As usual, he walks so fast. I have to run a bit to keep him in front of me. Many thoughts cross my mind. What's on earth had happened? He really walks in the middle of the rain. Where will he go? What had he just bought? Where is his car? Why doesn’t he drive? ..and OMG, what am I doing? Like a moron! What a stupid girl.

Ah, he stops in front of a cafe. He starts to sit down and I follow him. I sit in the corner, alone, like him. His head turn around dozen time and back again to his tablet.I suppose that he’s waiting for someone.Is he going to go dating? If so, I wonder what kind of girl he’s waiting for.But with a hoodie and a converse slipper? It makes a no sense.
Miss...
Miss...
OH! DAMN! You scared me, waiter!
“I’ve called you many times, but you didn’t respond!”
Oh sorry
“What would you like to order?”
Green tea
“Okay. Wait for a minute”

Oh well, it’s already thirty minutes. He’s still alone. He even hasn’t drunk his coffee. He does something with his tablet. Is he waiting for someone or just spending the night here? Aaaaah, if nothing happen like this, I better going home! Stupid me! I’ve spend 50k of a cup of green tea just for watching him from back. I can’t stop cursing myself. This situation makes me look like a real idiot girl. So, I open my book that I bring inside my bag. Another Haruki Murakami’s story. IQ84.

I hear someone’s coming by. A girl. She stops in front of him. Man! The girl’s coming. I make sure to myself that she’s not a waitress or something similar to that. And, she’s not.

“Sorry to make you wait. It takes a long time to go here”
“No. It’s okay. Finally you come, I’m glad”
“Thanks for waiting for me, anyway”
“Never mind”
I remember they didn’t speak again since that. It was about another fifteenth minutes, they kept in silence. To break the ice, he moved his seat. Closer to her. I could saw him from side. But, nothing comes through their mouth. I saw his face, looking straight to the girl without any moves. And she who noticed had been looked by him didn’t lift up her face. She just looked at her hands, and like that. Nothing happens, until the girl started to stand up.

“Sorry, K, I make you wait”
“You’ve said it before”
“Not about today, it’s about all this time”
“I don’t understand”
“People said, fate can bring us together, but it still up to you to make it happen. I am sorry, I can’t make it happen”


-->to be continued
--> OKE ini cerita mau kemaaanaaa juga akhirnya :O huaa

Tuesday, 3 January 2012

(3/366) Alkisah Sang Pengingat

Ada seorang anak kecil yang biasa dipanggil Sang Pengingat. Dia tinggal di sebuah gubuk di atas gunung. Bersama dua belas teman lainnya ia bermain dan kadang menjelajah hutan. Sang Pengingat mampu mengingat hal-hal kecil tentang seseorang. Ia hafal tanggal lahir setiap orang di pemukiman tempat ia tinggal. Apa yang disukai dan dibenci kedua belas temannya ia tahu diluar kepala. Bahkan kebiasan orang-orang disekitarnya pun ia ingat dengan sendirinya.

Suatu hari salah satu temannya, Si Cantik, berulang tahun yang kedua belas. Sang Pengingat ingin membuat kejutan untuk Si Cantik. Ia pun bangun subuh-subuh. Bahkan ia tak mau kedahuluan matahari untuk mengucap selamat ulang tahun pada Si Cantik. Dengan hati-hati, ia membuka pintu gubuknya dan berlari menuju gubuk teman-temannya yang lain. Lewat jendela kecil, ia membangunkan mereka.

Satu persatu teman-temannya pun bangun. Dengan dibalut udara yang masih dingin, mereka berkumpul dipinggir jendela gubuk Si Cantik. Sang Pengingat ingat betul Si Cantik suka membuka jendela gubuknya setelat h bangun tidur. Ketika matahari mulai mengeluarkan sinarnya malu-malu, anak-anak itu tertawa kecil. Sebentar lagi Si Cantik bangun, begitu kata Sang Pengingat. Mereka tak sabar untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
 

Benar saja, tak lama kemudian, terdengar suara jendela hendak dibuka. Anak-anak semakin menundukkan badannya agar tidak terlihat oleh Si Cantik. Jendela kecil diatas mereka mulai terbuka pelan-pelan. Suara tawa kemudian terganti oleh gumaman kecil menyuruh satu-sama lain agar jangan berisik. Ketika jendela sudah terbuka lebar, satu.. dua.. tiga.. Sang Pengingat berdiri sambil bersorak "Selamat Ulang Tahun, Cantik!" Kemudian diikuti tepukan dari kesebelasS teman yang lain. Mereka semua menyanyikan selamat ulang tahun untuk Si Cantik.

Si Cantik bahagia bukan kepalang. Ia lantas berlari keluar dan memeluk teman-temannya. Dua belas kali sudah ritual ini dilakukan, tak berkurang sedikit pun kebahagiaan Si Cantik ketika mendapati teman-temannya bersorak di depan jendela.

Hal yang sama terjadi ketika ibu Sang Pengingat berulang tahun. Pagi-pagi buta, benar-benar buta, sebelum ibu bangun, ia membangunkan seluruh keluarganya. Menyeret adiknya yang paling kecil untuk segera menuju kamar ibu. Si adik tak juga mau bangun. Susah memang untuk membangunkan adik. Masih dua jam lagi untuk bangun seperti biasanya. Namun, ketika Sang Pengingat membisikkan "Hei, ini ulang tahun ibu, tidakkah kau ingat? Ayo kita beri kejutan" si adik pun langsung melek. Mereka langsung berkumpul di depan ibu. Memandangi ibu yang sedang masih terlelap. 

Sebentar lagi ibu akan meregangkan tangan, kata Sang Pengingat. Lalu setelah menguap, biasanya ibu akan membuka matanya. Saat itulah kita bersorak selamat ulang tahun padanya, ya. Sang Pengingat memang tak pernah salah mengingat, ia selalu tepat. Selang beberapa menit, sang ibu meregangkan tangan, senyum di wajah kedua adiknya tak dapat ditahan. Ibu menguap dan membuka mata secara perlahan. Si kecil langsung memeluk sang ibu sambil diiringi nyanyian selamat ulang tahun dari yang lain. Ibu tertawa bahagia, ikutan bernyanyi kemudian, dan mengucapkan terima kasih banyak sekali.


Tak satupun ada ulang tahun yang lewat tanpa diberi kejutan. Nyanyian dan tawa bahagia selalu muncul di kali pertama mereka membuka mata. Dengan Sang Pengingat berdiri disana. 

Kini Sang Pengingat sudah tua. Ia hanya mampu berjalan dengan kursi roda yang dibelikan cucunya dikota. Ia mulai pikun. Yang ia ingat hanya satu hal. Bukan tentang Si Cantik dan kesebelas temannya. Bukan tentang ibu, ayah, dan adiknya. Ibu dan Ayah telah lama pergi. Teman-temannya merantau dan tak kembali. Begitu pula dengan nyanyian itu, sudah tidak ada! Lenyap termakan waktu. Tertelan sunyi dalam memori yang membeku.

Ternyata selama ini ada satu hari yang hilang. Hari yang seharusnya ada sorak-sorai kebahagiaan. Hari yang penuh kejutan. Hari yang ditunggu tapi tak juga datang. Hari yang dinanti oleh seseorang. Yang masih ia ingat sampai sekarang.

Itulah hari ulang tahunnya.

Powered by Blogger.

Popular Posts