Sudah dua tahun Yara ikutan klub menulis di sekolahnya, tapi jarang sekali ia menulis. Masalah klasik penulis pemula, takut dibilang jelek sama orang yang baca. Alhasil kegiatannya di klub cuma mendengarkan tips menulis dari pembina.
Ketika jam pelajaran berakhir, ia melihat Alvin sendirian di perpustakaan. Seketika jantung Yara berdegup kencang. Alvin, kapten baseball sekolah, peraih medali perak kimia olimpiade sains nasional, dan sederet prestasi lainnya yang jelas membuat cowok ini paling keren sesekolah. Apalagi sekarang ia jomblo. Lengkap sudah.
“Loh, Yara? Ngapain bengong disitu?” suara Alvin bagai jarum yang memecah gelembung lamunannya.
“Eh enggak, klub jurnalistik ngadain rapat di sini. Kamu ngapain? Serius amat bacanya”
“Ada summer camp di Belanda. Gue pengen banget ikut” kata Alvin seraya menyerahkan selebaran yang ia pegang ke Yara.
“Wah ini gratis lagi. Syaratnya juga cuma nulis essai. Buat Alvin ini mah gampang. Pasti lolos deh!”
“Belom tentu juga sih, gue juga masih belajar nulis essai. Lo bukannya anak jurnalistik ya? Ikutan dong. Coba aja lagi, siapa tau kita lolos”
Siapa tahu kita lolos. Kata-kata itulah yang membuat Yara tiba-tiba punya semangat tinggi untuk ikutan. Liburan sama Alvin di Belanda selama sebulan, gratis lagi. Gue gak bakal menyianyiakan kesempatan ini!! teriak Yara dalam hati.
Rona kehidupan Yara pun berubah. Sebelumya Yara hanya membawa buku tulis ke sekolah kini tiap hari bawaannya buku-buku tentang bullying yang tebelnya hampir ngalahin buku Harry Potter jilid 5. Kalau ada waktu luang, ia akan membuka laptop dan duduk anteng didepannya.
“Lo ngapain, Ra? Tumben-tumbenan lo nulis? Gitu dong!” kata Cecil teman sebangkunya.
“Hush! Jangan ganggu gue!”
Ujung matanya menangkap bayangan Alvin berjalan dikoridor. Yara langsung lari menghampiri.
“Alvin! Gimana essai lo? ”
“Udah gue submit kok” jawab Alvin sambil senyum. “Lo gimana? Semangat ya..”
“Oke” kata Yara kalem
Yang pasti, teriakan ‘oke’ Yara dalam hati jauh lebih keras daripada yang diucapnya barusan. Bermacam rencana indah memenuhi kepala Yara. Sebulan di Belanda? Sama Alvin? Sang high class jomblo? Pokoknya harus nulis essai yang bagus biar lolos. Yara bisa-bisa pingsan saking senangnya.
Sepertinya ia benar-benar akan pingsan, karena dua minggu kemudian ia dapat email konformasi kalau ia lolos summer camp! Ia bergegas berangkat sekolah sambil cengar-cengir. Matanya lihai mendeteksi keberadaan Alvin di kantin. Rasanya ia ingin memeluk Alvin, tapi itu nggak mungkin.
“Alvin! Gue lolos summer camp! Elo?”
“Wah! Selamat Yara! Lo hebat! Gue gak lolos”
Jawaban Alvin barusan sungguh membuat gigi-gigi Yara terasa rontok dan senyum lebarnya hilang seketika. Serasa bom atom telah meledakkan seluruh mimpi indahnya bersama Alvin.
“Loh, Yara? Ngapain bengong disitu?” suara Alvin bagai jarum yang memecah gelembung lamunannya.
“Eh enggak, klub jurnalistik ngadain rapat di sini. Kamu ngapain? Serius amat bacanya”
“Ada summer camp di Belanda. Gue pengen banget ikut” kata Alvin seraya menyerahkan selebaran yang ia pegang ke Yara.
“Wah ini gratis lagi. Syaratnya juga cuma nulis essai. Buat Alvin ini mah gampang. Pasti lolos deh!”
“Belom tentu juga sih, gue juga masih belajar nulis essai. Lo bukannya anak jurnalistik ya? Ikutan dong. Coba aja lagi, siapa tau kita lolos”
Siapa tahu kita lolos. Kata-kata itulah yang membuat Yara tiba-tiba punya semangat tinggi untuk ikutan. Liburan sama Alvin di Belanda selama sebulan, gratis lagi. Gue gak bakal menyianyiakan kesempatan ini!! teriak Yara dalam hati.
Rona kehidupan Yara pun berubah. Sebelumya Yara hanya membawa buku tulis ke sekolah kini tiap hari bawaannya buku-buku tentang bullying yang tebelnya hampir ngalahin buku Harry Potter jilid 5. Kalau ada waktu luang, ia akan membuka laptop dan duduk anteng didepannya.
“Lo ngapain, Ra? Tumben-tumbenan lo nulis? Gitu dong!” kata Cecil teman sebangkunya.
“Hush! Jangan ganggu gue!”
Ujung matanya menangkap bayangan Alvin berjalan dikoridor. Yara langsung lari menghampiri.
“Alvin! Gimana essai lo? ”
“Udah gue submit kok” jawab Alvin sambil senyum. “Lo gimana? Semangat ya..”
“Oke” kata Yara kalem
Yang pasti, teriakan ‘oke’ Yara dalam hati jauh lebih keras daripada yang diucapnya barusan. Bermacam rencana indah memenuhi kepala Yara. Sebulan di Belanda? Sama Alvin? Sang high class jomblo? Pokoknya harus nulis essai yang bagus biar lolos. Yara bisa-bisa pingsan saking senangnya.
Sepertinya ia benar-benar akan pingsan, karena dua minggu kemudian ia dapat email konformasi kalau ia lolos summer camp! Ia bergegas berangkat sekolah sambil cengar-cengir. Matanya lihai mendeteksi keberadaan Alvin di kantin. Rasanya ia ingin memeluk Alvin, tapi itu nggak mungkin.
“Alvin! Gue lolos summer camp! Elo?”
“Wah! Selamat Yara! Lo hebat! Gue gak lolos”
Jawaban Alvin barusan sungguh membuat gigi-gigi Yara terasa rontok dan senyum lebarnya hilang seketika. Serasa bom atom telah meledakkan seluruh mimpi indahnya bersama Alvin.
***
“Lo kenapa, Ra? Bete gitu muka lo?” tanya Cecil
“Gue lolos summer camp, cil. Gue udah bikin essai terbaik gue”
“Bagus dong, Ra! Tuh kan lo tuh bisa nulis, tulisan lo gak jelek. Tapi kok lo sedih gitu?”
“Tapi Alvin gak lolos. Kan gue pengen ke Belanda sama Alvin”
“Ya ampun cuma gitu doang! Denger ya Yara, lo tuh bakal nemuin seabrek bule cakep disana. Anggep aja Alvin itu motivasi elo buat nulis selama ini”
Bener juga, mungkin Tuhan nunjukkin kalo ternyata gue bisa nulis lewat Alvin. Asalkan punya semangat buat nulis dan terus berlatih, gue bisa kok jadi penulis. Thanks, Alvin!
0 comments:
Post a Comment