Saat hujan di bulan Juni, aku teringat puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Tentang cinta sederhana, yang selalu sederhana. Tapi kadang perihnya mampu membius asa. Menambah duka dan nelangsa.
Seperti ketika sebuah rasa menghembuskan bahagia. Padaku, saat melihat namamu. Berkali-kali aku ingin menyapa, tapi terlalu pengecut untuk bertatap muka. Yang ada aku hanya menghabiskan waktu sia-sia. Mengenalmu tanpa kau tahu.
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
-Aku Ingin (SJD)
Jika boleh aku berdoa, aku mau kita saling bertutur kata. Dalam bahasa yang dimengerti manusia ketika saling jatuh cinta. Bukan sekedar berdiri dan bergeming. Atau hanya aku yang sepenuhnya melukis matamu lewat kamera.
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
-Aku Ingin (SJD)
Aku tak hanya meneriakkan rindu. Aku melengkingkan namaku, ya namaku, agar kau tau bagaimana menyapaku. Aku ingin mengucapkan cinta, tapi gerimis berkata aku belum bisa. Kau saja tak memberikan pertanda. Aku sedikit kecewa, alam saja mampu merasa. Namun kenapa kau butuh waktu lama hingga membuat pipiku usang berdebu.
Suatu saat nanti, ketika aku berani menyebut namamu tepat didepan matamu. Lalu mata kita akan saling beradu. Gelombang radarku mencapaimu. Aku ingin kita saling bertukar rindu. Lalu aku akan tahu, sajakku bersambut. Nelangsa tak lagi ada.
0 comments:
Post a Comment