kubiarkan cahaya bintang memilikimu, kubiarkan angin yang pucat dan tak habis-habisnya gelisah..
tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu entah kapan kau bisa kutangkap…
ketika jari-jari bunga terluka
mendadak terasa betapa sengit, cinta kita
cahaya bagai kabut, kabut cahaya
di langit menyisih awan hari ini
di bumi meriap sepi yang purba
ketika kemarau terasa ke bulu-bulu mata
suatu pagi, di sayap kupu-kupu
disayap warna, suara burung
di ranting-ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah cinta kita
mabuk berjalan diantara
jerit bunga-bunga rekah…
-Sapardi Djoko Damono-
****
Sedih, ya?
Aku sih gak gitu ngerti, kayaknya puisi ini berbicara tentang kehilangan. Ia nggak bisa lagi melihat orang yang dicintai, barangkali sudah diambil oleh-Nya. Atau mungkin tentang orang-orang yang gak kan pernah bisa bersama lalu mereka tetap memaksakan. Ujung-ujungnya, apalagi kalau bukan luka? Atau tentang penantian sebelah tangan. Cuma satu yang menahan perasaan, yang dirasa, ia menghilang seperti makhluk malam. Tak terlihat tapi ada berkeliaran, mengganggu pikiran si penahan. Atau mungkin puisi ini tentang orang yang sedang merindu, di suatu malam, seperti aku.
Ah!
0 comments:
Post a Comment