Tuesday, 3 January 2012

(3/366) Alkisah Sang Pengingat

Ada seorang anak kecil yang biasa dipanggil Sang Pengingat. Dia tinggal di sebuah gubuk di atas gunung. Bersama dua belas teman lainnya ia bermain dan kadang menjelajah hutan. Sang Pengingat mampu mengingat hal-hal kecil tentang seseorang. Ia hafal tanggal lahir setiap orang di pemukiman tempat ia tinggal. Apa yang disukai dan dibenci kedua belas temannya ia tahu diluar kepala. Bahkan kebiasan orang-orang disekitarnya pun ia ingat dengan sendirinya.

Suatu hari salah satu temannya, Si Cantik, berulang tahun yang kedua belas. Sang Pengingat ingin membuat kejutan untuk Si Cantik. Ia pun bangun subuh-subuh. Bahkan ia tak mau kedahuluan matahari untuk mengucap selamat ulang tahun pada Si Cantik. Dengan hati-hati, ia membuka pintu gubuknya dan berlari menuju gubuk teman-temannya yang lain. Lewat jendela kecil, ia membangunkan mereka.

Satu persatu teman-temannya pun bangun. Dengan dibalut udara yang masih dingin, mereka berkumpul dipinggir jendela gubuk Si Cantik. Sang Pengingat ingat betul Si Cantik suka membuka jendela gubuknya setelat h bangun tidur. Ketika matahari mulai mengeluarkan sinarnya malu-malu, anak-anak itu tertawa kecil. Sebentar lagi Si Cantik bangun, begitu kata Sang Pengingat. Mereka tak sabar untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
 

Benar saja, tak lama kemudian, terdengar suara jendela hendak dibuka. Anak-anak semakin menundukkan badannya agar tidak terlihat oleh Si Cantik. Jendela kecil diatas mereka mulai terbuka pelan-pelan. Suara tawa kemudian terganti oleh gumaman kecil menyuruh satu-sama lain agar jangan berisik. Ketika jendela sudah terbuka lebar, satu.. dua.. tiga.. Sang Pengingat berdiri sambil bersorak "Selamat Ulang Tahun, Cantik!" Kemudian diikuti tepukan dari kesebelasS teman yang lain. Mereka semua menyanyikan selamat ulang tahun untuk Si Cantik.

Si Cantik bahagia bukan kepalang. Ia lantas berlari keluar dan memeluk teman-temannya. Dua belas kali sudah ritual ini dilakukan, tak berkurang sedikit pun kebahagiaan Si Cantik ketika mendapati teman-temannya bersorak di depan jendela.

Hal yang sama terjadi ketika ibu Sang Pengingat berulang tahun. Pagi-pagi buta, benar-benar buta, sebelum ibu bangun, ia membangunkan seluruh keluarganya. Menyeret adiknya yang paling kecil untuk segera menuju kamar ibu. Si adik tak juga mau bangun. Susah memang untuk membangunkan adik. Masih dua jam lagi untuk bangun seperti biasanya. Namun, ketika Sang Pengingat membisikkan "Hei, ini ulang tahun ibu, tidakkah kau ingat? Ayo kita beri kejutan" si adik pun langsung melek. Mereka langsung berkumpul di depan ibu. Memandangi ibu yang sedang masih terlelap. 

Sebentar lagi ibu akan meregangkan tangan, kata Sang Pengingat. Lalu setelah menguap, biasanya ibu akan membuka matanya. Saat itulah kita bersorak selamat ulang tahun padanya, ya. Sang Pengingat memang tak pernah salah mengingat, ia selalu tepat. Selang beberapa menit, sang ibu meregangkan tangan, senyum di wajah kedua adiknya tak dapat ditahan. Ibu menguap dan membuka mata secara perlahan. Si kecil langsung memeluk sang ibu sambil diiringi nyanyian selamat ulang tahun dari yang lain. Ibu tertawa bahagia, ikutan bernyanyi kemudian, dan mengucapkan terima kasih banyak sekali.


Tak satupun ada ulang tahun yang lewat tanpa diberi kejutan. Nyanyian dan tawa bahagia selalu muncul di kali pertama mereka membuka mata. Dengan Sang Pengingat berdiri disana. 

Kini Sang Pengingat sudah tua. Ia hanya mampu berjalan dengan kursi roda yang dibelikan cucunya dikota. Ia mulai pikun. Yang ia ingat hanya satu hal. Bukan tentang Si Cantik dan kesebelas temannya. Bukan tentang ibu, ayah, dan adiknya. Ibu dan Ayah telah lama pergi. Teman-temannya merantau dan tak kembali. Begitu pula dengan nyanyian itu, sudah tidak ada! Lenyap termakan waktu. Tertelan sunyi dalam memori yang membeku.

Ternyata selama ini ada satu hari yang hilang. Hari yang seharusnya ada sorak-sorai kebahagiaan. Hari yang penuh kejutan. Hari yang ditunggu tapi tak juga datang. Hari yang dinanti oleh seseorang. Yang masih ia ingat sampai sekarang.

Itulah hari ulang tahunnya.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts