Friday, 10 February 2012

(41/366) Tuhan dalam Malam

Aku percaya Tuhan ada. Karena dia yang tak terlihat dengan segenap energi dan kuasa-Nya telah menunjukkan sendiri, bahwa dirinya ada. Bukan dari mukjizat yang besar, bukan seperti apa yang Nabi pernah rasakan. Bukan juga tentang seorang malaikat yang datang. Tapi dengan cara sederhana bagaimana Ia membangunkanku untuk sholat.

Aku orang yang malas. Aku pendusta dan suka ingkar janji. Tuhan tahu itu, tapi ia tak marah. Tak apa katanya. Aku sering berjanji pada Tuhan untuk segera sholat. Tapi entah, semua organ tubuhku merayu dan menggoda untuk berkata jangan. Seperti semua hal terasa menyenangkan ketika kau hendak pergi sholat. Hingga kau malas beranjak dan tanpa terasa waktu sudah lewat. Aku sang pendusta. Bilang sholat, tapi akhirnya tidak. Tuhan tahu itu. Tak apa katanya.

Aku bilang pada-Nya pada suatu malam. Tuhan, aku mohon aku ngantuk, aku ingin tidur dulu. Nanti aku akan sholat, lima belas menit lagi. Janji apa yang aku berikan?! Bisa apa aku pada kantuk yang menyerang?! Lima belas menit berubah menjadi seharian. Aku tidak jadi sholat. Aku berdusta pada Tuhan.

Bukan yang pertama aku begitu. Sering malah mungkin hampir tiap malam. Aku malu. Aku merasa hina. Tapi apakah rasa itu terasa, ketika kau tidak melihat Tuhan secara nyata? Begitu juga aku, malu dan hina datang merasuk, dalam sedetik waktu yang menusuk. Selebihnya, biasa saja. Lupa aku pada malu, tak kenal aku pada hina.

Maka, aku beranikan diri untuk tetap meminta. Agar Tuhan mau membangunkanku, dengan cara apapun agar aku terbangun. Dan melaksanakan sholat yang tertinggal, karena aku tak kuasa mengejar kantuk yang terus membayang.

Tuhan Maha Baik. Ia mengabulkan apa yang aku minta. Ia bangunkan aku dalam lima belas menit itu, dengan membuka kupingku akan nada-nada pada alarm yang mengganggu. Ia buat aku kehausan di tengah aku menikmati mimpi dalam tidurku. Ia penuhkan kantung kemihku, hingga aku tak kuasa menahan rasa ingin kencing diantara damai malamku. Sering pula tanpa alasan aku terbangun, lalu Tuhan menancapkan sebuah memori yang memenuhi kepalaku pertama saat aku terbangun. Hai, Risma. Kamu belum sholat isya.

Kalau kepala ini sedang tidak berbatu. Kalau hati ini sedang tidak tertutup debu. Kalau diri ini tak bebal. Aku melaksanakan kewajiban itu. Tapi kadang hati ini penuh debu, kepala ini berbatu, dan bebal. Ah! Dasar manusia! Kataku pada seorang yang bernama Risma itu.

Tuhan yang Maha Baik, tak pernah ia mengumpat dibalik singgasana megah-Nya. Tak pernah ia kesal pada makhluk-makhluk yang mendustai-Nya. Tersenyum Ia. Melihat kita, berkutat pada dunia. Tuhan tahu semua. Tak apa, katanya. Tunggu saja.

***
Jakarta, @kamarkos, 3.15 am.
ditulis dengan penuh malu sehabis ngompol dikasur, setelah sebelumnya dibangunkan kehausan dan tertidur lagi. Tuhaaan! Terima kasihhhh!!!
(eh percayalah ini kali pertama aku ngompol, setelah enam tahun lamanya aku tak ngompol --")

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts