Monday, 13 February 2012

(44/366) Pesan

Kak, maaf kemarin aku membuka kotak coklat yang tersimpan diatas meja belajarmu. Aku tak punya cara lagi untuk mencarimu. Kau menghilang sebulan yang lalu. Meninggalkan meja favoritmu hingga berdebu. Hafal aku isi kamar tidurmu. Tahu aku semua foto yang terselip di lembaran buku bacaanmu. Ada seorang gadis disana. Serupa dengan apa yang kulihat didalam kotak coklatmu itu.


Kak, maaf aku tak bisa menahan mataku yang bandel ini untuk membaca sebuah surat atau cerita atau apalah namanya yang tersimpan rapi di dalam kotak itu. Namanya, Rian. Cinta pertamamu. Yang membuat pelangi diantara hari-hari kelabumu. Yang cerewet. Yang manja. Yang pintar. Yang jago masak. Yang ngga pernah lepas dari kacamata hitam dan kepang kuda. Semuanya kau sebut. Mungkin tak ada satupun ada yang luput. Kau bercerita sejak awal kalian bertemu. Hingga luka diam-diam menyayat dalam. Pada perpisahan yang sudah kau tebak kapan. Sebegitu sakitnya kah, kak, dikhianati? Sebegitu perihnya kah, kak, ditinggal pergi? Sebegitu hancurnya kah, kak, tak diingat kembali? Namun masih saja kamu kak, mengingatnya. Mau saja kamu kak, menyimpan tentangnya. Dan seluruh rasa yang dulu bergelora.


Cinta kah itu namanya, kak? Cintakah kamu padanya, kak?
Kakak bercerita tentangnya seolah-olah tak ada yang lain yang pantas dicintai. Seolah-olah hanya dia yang sanggup memberikan cinta, kak. Seolah-seolah, bahagia itu cuma ada satu sumber, Rian. Seolah-olah ia terbuat dari warna-warni alam. 


Empat belas tahun aku menjadi adikmu, dan selama itu kah aku tak pernah tau apa-apa tentangmu. Jarang kau memanggilku dengan sebutan sayang. Susah ya kak, panggil aku adikku sayang? Begitu bencinya kah kau kak, pada ayah yang dulu menghilang dan ibu yang pulang tanpa kabar. Hingga kau hanya mengejar orang-orang yang memang mencintaimu. Namun kemana kau sekarang. Seperti yang kau tulis, Rian tak ada lagi untukmu kak.


Aku juga ingin, kak. Merasakan cinta. 
Tak tahu aku rasanya kak. Tak pernah aku kak. Bahkan darimu, dari ibu, dan laki-laki yang kita sebut ayah itu.


Tapi kak, kalau kau berpikir tak ada lagi yang mencintaimu. Dungu kau kak. Bodoh kau kak. Aku masih disini. Memberikan seluruh cinta, hati, dan segenap rasa rindu yang terbalut dalam doá yang berpilin tiap malam gelap menutup mata. Pulanglah kak.. dan peluk aku.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts