Saturday, 11 February 2012

(42/366) Ada Benci

Ada benci yang tanpa permisi masuk, mengamati setiap sudut, 
dan tidur dalam senyap jiwa yang terkubur. 
Ada benci yang menyeruak keluar, tak terlihat tapi terasa kuat, 
dan menggerogoti setiap asa yang ingin mendekat. 
Ingin rasa mencengkeram hati, agar ia berhenti membara. 
Agar merahnya cepat padam. Dan putihnya cepat hilang.
Tapi sayang panasnya hati bikin nggak tahan.
Tangan ini serasa mengelupas, seiring berlalunya ingatan pada masa yang kini menjadi titik kobar.
Membakar kebahagiaan! Menghanguskan canda tawa!
Lenyap sudah getaran yang dulu menjadi hiasan kalbu.
Menjadi abu!


Ada benci pada satu nama. Yang dulu indah adanya.

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts