Aku tunjukkan padamu rahasia besar yang selama ini terbentang hanya lima centi dari telingamu. Maksudku, mungkin kau pernah dengar, tapi entah kenapa kau abaikan. Atau mungkin kau lupa. Nah, aku bantu ingatkan kau kembali.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW bersabda:
"Ada 7 golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu:
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW bersabda:
"Ada 7 golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu:
- Pemimpin yang adil
- Pemuda yang menyibukkan diri kepada Rabb-Nya
- Seorang yang hatinya selalu terikat pada masjid
- Dua orang yang saling mencintai karena Allah SWT, berkumpul dan berpisah karena Allah pula
- Seorang lelaki yang diajak zina oleh wanita kaya dan cantik tapi ia menolaknya seraya berkata "Aku takut pada Allah"
- Seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya
- Seorang yang berdzikir kepada Alah dikala sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis"
(Shahih Bukhari, Hadist No.620)
(Sumber: Majalah Nurul Hayat)
"Masuk golongan keberapakah kamu? Kalau jujur sih, aku juga belum termasuk golongan manapun. Masih tak ingat aku pada hal-hal seperti itu. Ku tutup telingaku, begitu juga mataku. Ku tali tanganku dan kuberi beton pada kakiku. Biar berat. Sengaja aku." Begitulah, kata salah satu makhluk yang terjaga dalam jiwa ini.
Oh, aku juga tak tahu sebenarnya ada berapa makhluk yang ada. Aku, si penulis, makhluk yang berbeda lagi. Aku makhluk kecil yang bersembunyi dibalik bilik hatinya. Musuh utama makhluk tadi. Nah, bicara soal keimanan. Aku percaya Tuhan. Aku tahu islam. Tapi aku tak bisa sendiri menjalankan apa yang aku tahu. Aku butuh tubuh besar yang membentuk jiwa ini, untuk menjalankan apa yang Dia mau. Sering aku suruh dia mengambil wudhu, kubuat hatinya penuh rasa tidak tenang ketika ia tak kunjung juga beranjak sholat. Kuingatkan dia pada kitab suci yang berdiri tegak di meja belajarnya. Ku banjiri dia rasa rindu untuk membaca ayat-ayat suci di dalamnya. Kubisiki dia tentang dosa, neraka, siksa, pahala, dan surga. Kadang dia bisa merasakanku. Pernah sampai menangis ia waktu berdoa. Persis seperti golongan ketujuh. Tapi itu hanya sepersekian kali.
Tak pandai aku mengingatkan dia. Sering dia lupa. Dan bermain-main dengan makhluk nomor satu yang berbicara di awal tadi. Sulit aku tembus bagian hatinya yang lain. Tebaaal sekalii. Ampuun DJ. Tak jarang pula, makhluk tadi menghalangi. Membuatku pusing. Semoga dibacanya rahasia ini, ditaruhnya bukan lagi lima centi, tapi tepat didepan telinganya. Dan Allah lah hal pertama yang ia ingat sebelum hal-hal lain. Dan sehingga nanti terjagalah ia saat tak ada naungan lagi yang tersedia selain naungan-Nya.
(Sumber: Majalah Nurul Hayat)
"Masuk golongan keberapakah kamu? Kalau jujur sih, aku juga belum termasuk golongan manapun. Masih tak ingat aku pada hal-hal seperti itu. Ku tutup telingaku, begitu juga mataku. Ku tali tanganku dan kuberi beton pada kakiku. Biar berat. Sengaja aku." Begitulah, kata salah satu makhluk yang terjaga dalam jiwa ini.
Oh, aku juga tak tahu sebenarnya ada berapa makhluk yang ada. Aku, si penulis, makhluk yang berbeda lagi. Aku makhluk kecil yang bersembunyi dibalik bilik hatinya. Musuh utama makhluk tadi. Nah, bicara soal keimanan. Aku percaya Tuhan. Aku tahu islam. Tapi aku tak bisa sendiri menjalankan apa yang aku tahu. Aku butuh tubuh besar yang membentuk jiwa ini, untuk menjalankan apa yang Dia mau. Sering aku suruh dia mengambil wudhu, kubuat hatinya penuh rasa tidak tenang ketika ia tak kunjung juga beranjak sholat. Kuingatkan dia pada kitab suci yang berdiri tegak di meja belajarnya. Ku banjiri dia rasa rindu untuk membaca ayat-ayat suci di dalamnya. Kubisiki dia tentang dosa, neraka, siksa, pahala, dan surga. Kadang dia bisa merasakanku. Pernah sampai menangis ia waktu berdoa. Persis seperti golongan ketujuh. Tapi itu hanya sepersekian kali.
Tak pandai aku mengingatkan dia. Sering dia lupa. Dan bermain-main dengan makhluk nomor satu yang berbicara di awal tadi. Sulit aku tembus bagian hatinya yang lain. Tebaaal sekalii. Ampuun DJ. Tak jarang pula, makhluk tadi menghalangi. Membuatku pusing. Semoga dibacanya rahasia ini, ditaruhnya bukan lagi lima centi, tapi tepat didepan telinganya. Dan Allah lah hal pertama yang ia ingat sebelum hal-hal lain. Dan sehingga nanti terjagalah ia saat tak ada naungan lagi yang tersedia selain naungan-Nya.
0 comments:
Post a Comment