Thursday, 5 January 2012

(5/366) Lima Detik Aku

Aku tidak pernah berencana jatuh hati padamu dan aku benci harus mengakui itu. Aku tidak akan membuat cerita cinta disini. Karena kamu pun belum menemukan penamu untuk menulis dibukuku.  Aku ingin jatuh cinta. Aku ingin menulis tentang cinta. Aku ingin menulis kamu.

Aku benci harus tersingkirkan dari kerumunan orang-orang yang sedang bercerita cinta. Aku benci disangka pembohong ketika dipaksa bercerita cinta. Aku tidak mengada-ada. Aku tidak pernah duduk dengan lilin dimeja dan seorang ‘kamu’ ada didepanku. Aku tidak pernah berjalan dan menggenggam tanganmu. Aku tidak pernah berceloteh hal-hal absurd di telepon tengah malam dengan makhluk sejenis ‘kamu’. Aku tidak pernah diingatkan solat, makan, mandi kecuali oleh mama atau papa. Tak ada yang membelai rambutku kecuali mama, itu pun ketika aku punya kutu.

Maka aku putuskan sejak hari ini aku adalah orang yang sedang jatuh cinta. Pada siapa? Siapa lagi kalau bukan kamu. Makhluk dinamis yang suka bergerak kesana-kemari.

Aku jatuh cinta dalam lima detik kau menatapku. Aku jatuh cinta dalam lima detik kau ber’hai’dari kejauhan. Aku jatuh cinta dalam lima detik kau memanggil namaku. Aku jatuh cinta dalam lima detik kau berkata ‘ngerti nggak?’ Aku jatuh cinta dalam lima detik kau menepuk pundakku. Aku jatuh cinta dalam lima detik kau tersenyum. Aku jatuh cinta memandangi matamu, dalam lima detik. Setiap hari.

Dan kamu bukan mama atau papa. Kamu adalah orang lain yang aku pun tidak kenal. Kamu adalah lengkungan bulu mata yang mampu membuat jantung ini mempompa sepuluh kali lebih cepat bahkan dari ketika aku berlari marathon. Dug-dug-dug tak karuan. Ajaib rasanya jatuh cinta padamu. Tanpa aku sadari, aku berjumpa ‘lima detik’ itu. Setiap hari

Mencintaimu itu seperti membaca buku. Tak sabar menunggu untuk membaca halaman selanjutnya. Seperti buku dimana akulah pembaca setiamu. Mengikuti gerak-gerikmu, membaca makna pikiranmu, dan hati ini akan berirama disetiap kata yang terbaca.

Namun, mencintaimu itu menjaga hal yang tersirat tetap tersirat dan tak akan pernah menjadi sesuatu yang tersurat. Kau takkan pernah tahu aku. Karena kau selalu yang terbaca. Kau yang tersurat. Aku yang tersirat dan tak terlihat.
R.A

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Popular Posts